top of page
Search

Evolusi MDF dan MFM: Dari Bahan Mentah Hingga Jadi Produk Ramah Lingkungan

Belakangan ini, material berbasis serat kayu menjadi salah satu bahan yang paling dicari dalam industri konstruksi dan manufaktur. Sebab, material ini kuat, mudah dibentuk, dan merupakan alternatif yang ramah lingkungan. Medium Density Fibreboard (MDF) dan Melamine-Faced MDF (MFM) merupakan dua material yang mengalami evolusi cukup signifikan selama beberapa dekade terakhir.



Tukar kayu memotong papan dengan mesin pemotong kayu

Kedua bahan ini terbuat dari serat kayu yang dieratkan dengan resin dan lem, serta dipadatkan dibawah tekanan dan suhu yang tinggi. Papan modifikasi ini mulai diproduksi secara massal pada tahun 1980an di Amerika dan Eropa. Sejak saat itu, istilah fibreboard dan MDF sendiri digunakan untuk menyebut material ini dan menjadi bahan paling umum dalam industri mebel, konstruksi, dan dekorasi interior.


Sementara itu, Melamine-Faced MDF atau MFM merupakan varian MDF yang telah dimodifikasi dengan melamin untuk menambahkan resistensi terhadap kelembaban dan meningkatkan ketahanannya.

Nah, bagaimana MDF dan MFM dapat berkembang menjadi bahan favorit untuk pembuatan perabotan seperti sekarang?


  • Penemuan: Pada tahun 1925, seorang tukang kayu bernama William Mason tidak sengaja membuat hardboard. Tatkala ingin memadatkan fiber-fiber kayu menjadi sebuah insulation board, Mason justru lupa untuk mematikan mesin kayunya. Ia tidak sengaja menciptakan sebuah papan tipis yang kemudian disebut sebagai hardboard — inilah yang kemudian menjadi cikal bakal dari fibreboard yang kita kenal saat ini.


  • Sumber material: MDF maupun MFM menggunakan batang kayu lunak yang telah dikupas kulitnya sebagai bahan dasarnya. Serbuk gergaji dan serpihan kayu daur ulang juga dapat ditambahkan untuk memperkuat komposisi utama papan ini. Beberapa produsen bahkan menambahkan limbah industri, koran bekas, potongan buku bekas, atau gelas kertas sehingga mengurangi ketergantungan pada kayu. Daur ulang limbah industri dan penguranga inilah yang membuat MDF dan MFM lebih ramah lingkungan daripada material lainnya.


Papan melamine-faced MDF (MFM) dalam empat warna berbeda ditumpuk di atas sebuah meja kayu

  • Proses pembuatan: Pertama-tama, batang kayu yang masih berukuran besar diperhalus dalam mesin pemotong. Di sini pula produsen akan menambahkan bahan-bahan tambahan lainnya, seperti sampah kertas. Bahan yang kasar ini kemudian diproses menjadi sebuah bubur (pulp) lewat mesin ayakan dan disemprot dengan lilin dan resin untuk proses pengikat. Pulp kemudian dibentuk menjadi panel yang tebal dan dimasukkan ke dalam mesin press bersuhu tinggi yang akan menekan dan memotong panel sesuai ukuran akhirnya. Setelah sudah dingin, papan akan di amplas hingga halus agar siap untuk dicat maupun diberi lapisan pelindung.


  • Bahan perekat: Salah satu hal yang menjadi perhatian khalayak umum adalah bahan perekatnya yang mengandung formaldehyde, yang adalah bahan beracun. Akan tetapi, banyak produsen MDF yang sudah beralih ke perekat berbasis tanaman atau bebas formaldehyde.

Papan MDF dan MFM telah mengalami evolusi yang signifikan untuk menjadi bahan konstruksi yang ramah lingkungan. Inovasi yang unggul ini memanfaatkan serat kayu yang umumnya dibuang dan perekat alami dalam proses pembuatannya. Hingga kini, pengembangan dan penerapan praktik-praktik berkelanjutan dalam bahan konstruksi terus dilakukan untuk memperpanjang usia bumi kita.


Mari beralih ke bahan ramah lingkungan dan mudah daur ulang seperti MDF dan MFM. Kemudahan dan ketangguhannya hanya dapat diperoleh dari bahan berkualitas tinggi dari produsen terpercaya seperti PT Sumatera Prima Fibreboard (www.spf.co.id)

Комментарии


bottom of page